TITIPAN DARI SURGA

Standar

Titipan dari surga

 

                                                                                                                

 

“BRAK……PROKK…..PROK….. BRENGGGGG!!!!!” suara anna pulang sekolah yang dengan tiba-tiba membanting pintu dengan memajang muka sangat tak sedap di pandang, memanyunkan mulut kecilnya dan menajamkan pandangannya padaku, kemudian bergegas masuk kamarnya dan membanting pintu tiba-tiba…

 

Hal ini membuatku mengerutkan dahi seketika, dan bertanya pada diriku sendiri apa yang sebenarnya terjadi, aku sungguh tak mengerti, dan tak seperti biasanya ia hanya diam dan asyik menulis, menulis, dan menulis di depan computer, entah menulis apa, ku suruh ia untuk makan atau melakukan aktivitas yang lain, ia pun mau melakukannya, tapi tetap membisu dan hal ini benar-benar membuatku kebingungan harus berbuat apa. Kutanya beberapa kali tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tetap membisu, anna please jangan kau siksa mama mu ini sayang.

 

Pagi-pagi aku sengaja mengintainya dari balik jendela kamarnya dari luar rumah, aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, namun nihil. Tak satu keterangan pun yang ku dapat dari ide ini. bergegas aku ke dalam rumah dan meraih telpun rumah kemudian ku pencet beberapa nomor disana dan tuuuuuuuuuuut…….tuuuuuuuuuut….

.

“halo dengan neli di sini, ada yang bisa saya Bantu???” suara seseorang menjawab telpon ku disana yang tak lain adalah sahabat dekat anna.

 

“neli. Ini tante lusi, beberapa hari ini anna terlihat berbeda, apa kamu tau dia kenapa???”

 

“eemmmm, mungkin emang lagi ngambek kali tante, di kelas dari kemarin dia ga cerita apapun tuh ke neli, Cuma diem aja, neli juga ga tau tu kenapa?”

 

“tante khawatir neli, nanti coba kamu tanya ya sama dia, tolongin tante ya sayang…”

 

“ya tante, nanti saya coba tanya”

 

“ok terimakasih”

 

“ya tante sama-sama”

 

Kutututp telpon dan kembali ke dapur, aku akan berusaha sebiasa mungkin menyambut pagi ini untuk anna. Tak lama ku persiapkan sarapan di dapur anna muncul dari balik pintu kamarnya, dia terlihat sedang asyik mengangguk-anggukan kepalanya dan menutup kedua telinganya dengan headphone. Ku tarik nafas dalam kemudian tersenyum dan ku hampiri sosoknya dengan membawa sepiring sarapan kesukaannya. Mata tajamnya menatapku, dan saat pandangan kami bertemu, ia  tetap diam….

 

“ na ni sarapan dulu “tawarku sambil menyodorkan sepering nasi goreng kegemarannya. Tapi dia tetap diam, diam dan hanya diam.setelah sarapan ia bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghammpiriku dan meraih tangan ku dan menciumnya, kemudian ia pergi, tampa mengeluarkan kata satu patah pun.

 

Pasti ada yang salah, tapi apa? Selama aku membesarkannya seorang diri dari kecil ia tak terbiasa membisu seperti ini, jika sudah benar-benar mrah dan kesal maka ia akan beraksi seperti yang sedang terjadi saat ini, diam…diam…dan diam…seribu bahasa yang benar-benar menyiksaku. Sementara ia pergi ke sekolah di salah satu SMANSA di daerah ku ini, aku mulai berinisiatif untuk masuk ke kamarnya dan mencari tau apa yang ia sembunyikan di sana.

 

Perlahan ku melangkah dan akhir nya sampai di kamar bernuansa ungu ini yang mungil dan penuh dengan coretan-coretan lukisan yang aku tak mengerti apa maksudnya di beberapa bagian dindingnya. Ada beberapa tokoh dunia seperti putri Diana, Celine dion dan Oprah winfrey yang ia lukis dan ia pajang di beberapa sudut di ruangan berukuran 4×6 meter itu. Dulu ia sering menceritakan padaku tentang cita-citanya yang ingin menjadi seorang yang hebat seperti Helen Keller, dia juga ingin tumbuh seperti Celine dion, namun kadang juga ia cerita jika dewasa nanti ia ingin menjadi penulis sekelas Remy sylado,atau Shake spear, bahkan ia juga bercita-cita ingin menjadi seorang ibu semulia Siti Khadijah, aku bangga pada anaku Anna. Karena ia adalah masa depan ku yang penuh harapan dan impian besar. Pernah ia berkata padaku bahwa suatu saat nanti ia akan memakai hijab dan akan benar-benar mendalami dunia seni, terutama seni sastra islamiah.

 

Ku pandangi sekeliling ruangan yang menjadi privacy nya ini dan ku hampiri meja belajarnya dan ku dapati tulisan di atas meja kayu itu yang dengan sengaja ia ukir menggunakan cutter yakni “mama saya orang hebat, lebih hebat lagi kalo mama mau pake jilbab, wah pasti lebih cantik”. Tek….jantungku rasanya berdebar dua kali lebih capat dari biasanya. Kubuka lagi buku hariannya, yang kian menumpuk beberapa macam di sana, mulai ku buka kemudian ku baca. Sebenarnya Anna tergolong orang yang tak banyak bicara, namun banyak sekali menulis, dan ia juga sangat membenci bila tulisannya di baca orang lain, termasuk aku. Namun aku benar-benar tak bisa diam-diam saja melihat dia diam, membisu lebih dari 24 jam.

 

Dengan tiba-tiba mataku melotot dan benar-benar kaget kalau ternyata annaku ini sebenarnya banyak sekali mengkritik aku namun tak pernah ia utarakan padaku langsung, dalam buku hariannya ini aku memperoleh berbagai informasi yang membuat aku ingin menagis dan ingin memeluknya. Ku buka lembaran-lembaran itu dan tertera tulisan :

 

“mama…mama kapan paha mulusmu akan kau tutup dengan kain yang suci yang akan melindungimu dari fitnah. Mama…mama…. Aku ngin sekali melihat kehermu yang panjang dan indah kau tutup dengan hijab yang akan memuliakan mu, mama…mama…..kapan kau akan mengerti bahwa aku sangat rindu kau pulang kerja jam 5 sore bukan jam 5 pagi, mama…mama….kenapa kau hanya diam… mama….aku anakmu akan selalu menunggu perubahan itu terjadi”

 

Di lembar berikutnya ku dapati kembali tulisan yang benar-benar mngiris hati ku dan membuat aku ingin benar-benar teriak dan mengadu pada yang Gusti.

 

“tubuh mu memang sangat seksi mama….rambutmu coklat tua sama seperti warna matamu, menyala dan sangat indah, menjuntai hingga ke pundak dan terurai dengan indah, badan mu yang semampai memang sangat menarik, di tambah wajahmu laksana bidadari yang turun ke bumi, tapi aku tak bahagia ma….aku tak mau kemuliaanmu di rendahkan orang lain,….ma aku anakmu masih menunggu perubahan itu ma…..”

 

Aku mengis…dengan terisak…sangat terisak, duh Gusti aku malu pada anak ku, sangat malu aku sadar ia adalah anak pintar dan kritis, aku juga sadar bahwa ia bukan lagi anak kecil yang polos, namun sudah menjadi sosok yang memiliki kehebatan dalam menyelesaikan masalah dan juga memiliki cara pandang yang berbeda dengan anak-anak seumuranya. Anna anaku mama malu nak.

 

 

 

 

 

Pagi yang cerah, mulai perlahan telingaku mendengar nyanyian kakak tua peliharaanku, perlahan pula kurasakan hempasan angina masuk ke kamarku ayng sejak dari malam tadi tak kututup jendelanya. Pelahan pula aku membuka mata dan memicingkannya, kemudian ku bangkit dan melesat menuju kamar mandi.

 

Sementara disisi lain, anna juga sedang asik menata beberapa jenis pakaiannya di kamarnya, dan tanpa ku sadari waktu sudah menunjukan pukul 11.30 WIB. Selama berada dalam kamar mandi, aku terus merenung dan asyik tenggelam dalam lamunanku, ku raba keherku dan beberapa bagian tubuhku, aku bertanya dalam hatiku sendiri “apa aku pantas mengenakan hijab?, sementara pekerjaanku sebagai seorang kupu-kupu malam masih ku geluti. Apakah anna juga mengetahui apa profesiku?, apa aku ini pantas menjadi ibu yang baik untuk anak ku yang cerdas dan pintar itu?, apa ini contoh yang baik untuk anakku?, aku benar-benar tak menikmati pekerjaan ini, aku hanya ingin bertahan hidup, aku hanya ingin bertahan hidup di kota besar yang teramat keras ini,duh Gusti…..apa yang harus aku katakana pada anakku itu kalau ia juga bukan buah hati ku, dia hanya titipanMu yang kutemukan di sudut jalan itu 17 tahun yang lalu, lalu bagai mana jika ia tau pekerjaanku ini, apa ia akan tetap menyayangiku, ya ALLAH beri hamba petunjukmu” tok….tok….tok…..suara seseorang mengetuk pintu kamarku dan langsung membuyarkan lamunanku.

 

“ya sebentar, lagi mandi”jawabku dengan sedikit teriak, dengan gerakan yang cekatan kuraih langsung handuk di gantungan dan ku bergegas membukakan pintu kamarku, dan ops…tak ada sosok siapapun disana namun saat mataku tak sengaja menengok kebawah, kudapati satu kotak benda berbungkus kertas kado berwarna ungu, pasti dari tuan putriku, ku ambil dank u bawa masuk ke kamar, kutaruh di atas meja dan ku buka perlahan dan oh…mata ku mulai berkaca-kaca lagi…karena ini bukan lah hari ulang tahunku, namun ada yang benar-benar aneh dengan tingkah laku anna, kali ini ia memberiku kado yang berupa 12 belas warna jilbab polos dari sutra, dan ada surat di sana yang sengaja ia selipkan,

 

“ mama saya yang baik dan cantik, pasti lebih cantik kalau mau pake jilbab, ma…anna bosen liat bentuk tubuh mama yang indah itu mama pajang-pajang dengan bangga, mama maaf kalau anna sudah bertingkah kalu yang teramat aneh belakangan ini, anna Cuma takut mama marah, anna sudah tau ma….anna sudah tau kakau anna ini nukan anak kandung mama, dan mengenai pekerjaan mama, anna juga sudah tau…anna bisa menerima semua itu ma, tapi anna mohon mama terima kado anna ini ya ma….hari kasih sayang itu bukan hanya di tanggal 14 februari saja kan ma….?? Mama ku yang cantik, mungkin ini adalah kado terakhir dari anna, anna akan pergi dan takkan lagi menyusahkan mama sehingga harus kerja pulang jam 5 pagi lagi, anna sudah gede,anna juga dapat beasiswa ma di Jakarta, anna akan sekolah dan kelilng dunia bersama mama, tapi sekarang tolong jangan cari dimana anna ya ma, anna akan kembali jika anna sudah bisa menghaasilkan uang untuk mama. For my mother I’ll always love u, wharever u are, l’ll back with all the blessing of my God, ALLAH.”

 

Tubuhku lunglai semakin tak berdaya, lemas dan sangat lemas, denga bercucuran air mata, aku malu pada anna anaku, aku sangat malu….ku genggam erat-erat surat itu. Selama ini aku sangat keras terhadapnya hingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat pendiam, tanpa aku tau apa arti dari diamnya itu, oh…Duh Gusti mungkinkah ini maksudmu meitipka anna lewat tangan ku, aku tak pernah menyangka bahwa ke hadirannya akan menyadarkan ku bahwa profesku adalah hal yang sangat tiada harga di hadapanMu, Ya ALLAh tolong aku ….tolong au dalam ketidak berdayaan ku.

 

 

 

 

Tiga tahu sudah ia meninggalkan ku, setiap minggu ia hanya mengirimi ku surat tanpa ku tahu darimana alamat pengirimnya, ia menceritakan kejadian demi kejadian yang ia alami selama di Jakarta, dan aku bangga ternyata ia bisa menyelesaikan masalahnya dan semakin membuatku tersadar, akan arti penting kehadirannya.

 

Sejak kejadian 23 tahun yang lalu aku sudah benar-benar tak percaya lagi dengan yang namanya laki-laki. Mengapa? Karena awal mula aku terjun sebagai seorang mucikari berawal dari cinta ku yang teramat sangat terhadp seorang laki-laki yang ku kira kudus ternyata sangat kudis itu telah sukses menjerumuskanku ke dunia hina, yang awalnya ia bilang bahwa aku akan di salurkan menjadi TKW dengan gaji yang mantap dan pekerjaan sebagai buruh pabrik di Taiwan, ternyata malah aku di perjual belikan, hal ini sungguh sangat menghancurkan kepercayaanku terhadap seorang laki-laki. Oleh karenanya aku memutuskan untuk hidup tanpa seorang suami. Toh Tuhan sudah memberikan anna padaku, yang sangat kusayangi walau aku juga tak pernah tau dia anak siapa karena aku hanya menemukan bayi anna di sudut jalan itu.

 

Dan aku tak ingin klejadian ini dialami anna, oleh karenanya aku selalu bartidak keras terhadap anna. Yang malah membentuk pribadi yang tak tepat . namun apapun perubahannya ia tetap anaku, karena cinta seorang ibu sepanjang masa. anna …kemana kamu nak….mengapa kamu siksa ibumu dengan keadaan seperti ini, keluhku dalam hati, namun setiap ku dapat surat darnya selalu ku tempelkan di dinding kamarnya yang mulai terlihat penuh dengan tempelan surat disana, dan yang paling besar tulisannya ia menginggatkan padaku, bahwa ia pasti kembali saat ia sudah sukses, dia bilang di setiap suratnya, bahwa ia sedang menuju perubahan yang besar. Entah aku tak paham perubahan apa, tapi aku percaya annaku akan kembali dan memelukku. Juga akan mengatakan I love u Mom.

 

 

 

Sore yang tenang di temani secangkir teh dan lembayung senja yang menenangkan, tiba kriiiiiiiinnnnnngggg…..kriiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnngggggg, telpon rumah ku berdering dan sedikit mengagetkanku. Dengan cepat ku angkat telpon itu dan…

“halo dengan lusi di sini”

 

“tante lusi ini neli, tante anna kecelakaan dan di rawat di rumah sakit kartika”

 

“apa! Dari kapan?tante ga tau rumah sakit kartika dimana, kamu mau jemput tante di sini?antar tante kesana ya nel…”pintaku

 

“ya tante, neli akan ke rumah tante dan akan jemput tante…tante tenang dulu ya…”

 

“mana bisa tenang, kamu cepetan kesini ya nel…”

 

“ya tant, ya dah neli kjemput tante sekarang ya “

 

Tak lama kemudian ku tutup telpon itu  dan bergegas ku buka task u dank u masuk kan beberapa potong pakaian ku, ku melangkah ke kamar anna, dan ku pandangi setiap ruas kamar itu dan kembali ku meneteskan air mata, duh Gusti betapa aku merindukan anak itu, di dinding itu terlukis sekilas bayangan senyum manis anak itu, dan tatapan matanya yang tajam. Tak lupa aku ambil jilbab pemberiannya itu dan ku pasangkan di kepalaku, ku mematung di depan kaca, ku dapati sosoku, ternyata memang lebih mulia berhijab, leherku ter lindungi dari pikiran-pikiran kudis kaum lelaki, pahaku juga terlindungi dari berbagai fitnah dari mata-mata para adam, juga kehornatanku akan sangat terjaga. Anna aku sangat merindukanmu nak… ku pandangi wajahku yang memang perpaduan antara wajah-wajah jawa dengan belanda.

 

 

 

Sesampainya aku di ruangan penuh hordin warna putuh itu ku dapati tubuh putriku yang lemas tak berdaya, dan aku sungguh tak bisa bahkan tak mampu berkata apa-apa, duh Gusti, cobaan macam apa lagi ini, putriku telah kehilangan satu kakinya, dalam kondisi yang masih terpengaruh obat bius, aku sungguh tak kuasa menahan air mata yang terus meluncur dengan derasnya membasahi bahkan membanjiri pipi ini, ku peluk putriku itu dan terus ku belay-belai kepalanya yang sudah terbalut jilbab warna orange itu, cantik sekali putriku ini, sampai aku tertidur di sampingnya.

 

“ma…..,mama……”ucapnya mamanggilku,

 

Kuangkat kepalaku dan ku berikan senyuman ku padanya

 

“mama jangan marah ya ma….”pintanya

 

“ya sayang mama ga marang sama anna, tapi kenapa anna pergi?”

 

“ma…mama jangan lagi menjual tubuh mama hanya untuk menghidupi anna,”

 

Perlahan anna ingin bergerak mengangkat tubuhnya agar bisa ganti posisi, dia ingin duduk.

“pelan-pelan sayang, “aku coba membantunya

 

“aduh…ma sakit….kaki anna sakit ma”rintihnya

 

“sabar dulu ya sayang, mama panggil dokter” air mataku sudah benar-benar tak bisa ku tahan lagi, aku membalikkan badan ku dan menyeka air mata ku, sambil merintih-rintih anna memegangi kakinya dengan kesakitan, sementara neli dan beberap kawan nya datang untuk menghiburnya dan mengajak anna untuk trus beristighfar…

 

Setelah dokter datang dan memberinya obat kemudian anna tertidur lagi, dan saat itu pula teman-teman anna meminta ijin untuk pulang, dan kembali aku menunggunya, saat aku duduk di samping anna di sana ku dapati buku hariannya yang ia bawa, dank u buka, di sana tertulis….

 

 “kehilangan kaki tak seberapa sakit, di banding harus kehilangan mama…..mama sayang kaki ku hilang satu karena aku bertemu dengan beberapa lelaki yang igin merampas kehotmatanku dan  kehilangan satu kaki tak lebih sakit jika harus ku bayar dengan kehormatanku …..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s